: : :     “Integrity is doing the right thing even when no one is watching. C.S. Lewis”     : : :

Haji Denny, Calon Gubernur Kalsel Bermodal Rp 2 Triliun?

Tolak Politik Uang

Saya sering ditanya, habis dana berapa ikut pemilihan gubernur Kalsel? Artikel ini akan menjawabnya. Soal dana ini memang penting. Apalagi masih ada yang berpegang teguh, resep utama kemenangan adalah modal logistik yang melimpah. Tanpa modal segudang tidak mungkin bisa menang.

Pandangan itu tentu tidak sepenuhnya salah. Karena berpolitik pasti butuh biaya (political cost). Namun, jangan pula dianggap 100% benar. Karena kemenangan tidak boleh hanya ditentukan oleh besaran kapital. Kalau uang yang menentukan arah kemenangan, dapat dipastikan pemilu kita akan disetir oleh kepentingan para pemodal, sekelompok oligarki. Akhirnya, yang berkuasa adalah DUITokrasi (daulat uang) bukan DEMOkrasi (daulat rakyat).

Yang pasti, modal saya untuk maju Pilgub Kalsel 2020—2021 bukanlah uang. At least, bukan hanya dan semata itu. Satu, karena memang tabungan kami tidak besar. Dua, secara prinsip, kami ingin mengirim pesan dan contoh, bahwa maju pilkada tidak harus dengan modal selangit. Sayangnya, soal modal sebagai penentu kemenangan ini sudah menjadi rumus yang terlanjur diyakini banyak politisi dan peserta pemilu.

Haji Denny & Para Ulama

Pada tahapan inilah, para tokoh agama dan tokoh masyarakat, seharusnya mempunyai peran yang strategis. Apalagi di Kalimantan Selatan, yang rakyatnya dikenal religius. Itu sebabnya, saya berkeliling Kalsel dan bertemu banyak alim ulama, Guru (Kiai), habaib, selain untuk mensosialisasikan pencalonan, juga untuk menyamakan pandangan bahwa daulat uang, DUITokrasi harus dikalahkan.

Salah satu tokoh yang saya kunjungi beberapa kali untuk meminta doa dan bertukar pikiran adalah ulama kharismatik KH Muhammad Bakhiet (Tuan Guru Bakhiet). Pada kesempatan bertemu pertama kalinya, setelah pengajian Beliau di Kabupaten Balangan, kami berbincang banyak hal. Salah satunya soal besarnya modal menjadi calon gubernur. Dalam diskusi itulah muncul informasi bahwa dalam Pilgub 2015, salah satu pasangan calon menghabiskan dana hingga Rp 2 triliun.

Saya terkesiap. Itu dana yang fantastis. Amat sulit untuk mempercayainya. Kalimantan Selatan memang provinsi seksi. Kaya sumber alam yang melimpah. Dulu primadonanya adalah hasil hutan, utamanya kayu. Setelah hutan gundul, beralih ke batubara dan kelapa sawit. Maka, sebutlah beberapa grup kaya-raya di Indonesia, rata-rata punya bisnis di Kalsel. Karena itu, sebagaimana penelitian KPK, untuk wilayah yang kekayaan alamnya besar, maka dana kompetisi politik juga akan tinggi. Tetapi dua triliun rupiah? Itu rasanya jauh di atas kewajaran dan—maaf—kewarasan.

Yang saya dengar langsung dari pelaku pilgub 2015, ada pasangan yang menghabiskan dana antara 500 hingga 800 miliar. Informasinya saya dapat dari hasil mengunjungi para tokoh-tokoh Banua. Tentu saya tidak bisa menyebutkan namanya. Meskipun, kisahnya bisa saya sampaikan untuk menjadi bahan perenungan dan pembelajaran.

“Di 2010 kami habis sekitar 68 miliar. Tahun 2015 tadi, lebih banyak, 500 miliar”, ujar sang tokoh menceritakan pengalamannya.

“Lima ratus miliar? Gila! Itu besar sekali,” saya terkejut. Kami sedang berbincang di ruang tamu sang tokoh di Banjarbaru.

“Di hari pencoblosan, ‘hujan daras labat banar’ (hujan deras sekali)” ujarnya, menggambarkan besarnya biaya serangan fajar di hari H Pilgub 2015.

Ketika bertemu dengan Eep Saefulloh Fatah, salah satu konsultan politik terkemuka tanah air, saya ceritakan besaran biaya pilgub Kalsel itu. Bung Eep juga terkejut.

“Itu besar sekali. Dari pengalaman saya menangani pilkada, tidak pernah ada yang sebesar itu. Kalau untuk Pilgub Kalsel, seharusnya bisa dilakukan dengan dana 30 miliar”, katanya.

Bagi saya, jangankan 500 miliar, 30 miliar pun sudah terlalu besar. Yang pasti, dana yang kami keluarkan jauh di bawah angka 30 miliar sekalipun. Kami memang cagub paket super hemat. Bahkan cawagub saya, Bang Difriadi hanya menghabiskan dana sekitar Rp 600 juta. Soal perjuangan dengan cawagub Difri akan saya kisahkan pada artikel lainnya.

Tapi jangan terkejut dulu dengan angka 500 miliar, cerita belum selesai. Dalam satu kesempatan bertemu dengan tim kampanye sang cagub 2015, saya konfirmasi soal angka lima ratus em tersebut.

“Ujar Kanda X, di pilgub 2015 paslon B habis 500 miliar, bujurkah Bah (Pak)?”

“Salah sidin (beliau). Bukan 500, tapi 600 miliar,” angkanya malah naik. “Saya tahu betul, karena tanpa disposisi persetujuan saya, dana tidak ke luar dari Haji Z. Jadi saya tahu persis dan bisa menghitung berapa dana yang dikeluarkan”.

“Waktu itu harga pasaran rusak. Semua naik, termasuk mahar untuk partai”.

Lalu bercerita lah sang tokoh senior, bagaimana Haji Z dengan mudahnya menggelontorkan dana ratusan miliar di pilgub 2015. Tanpa menawar, bahkan dari angka yang diajukan, dana ditambah.

“Suatu hari Haji betakun (bertanya). Sudahkah dihitung Pak? Berapa dana operasional partai koalisi? Saya jawab sudah. Kebutuhannya 150 miliar. Kata Haji, kalau begitu genapkan aja jadi 200. Saya bilang, tidak perlu, 150 sudah cukup. Haji bekaras (tetap memaksa), kada masalah, genapkan aja 200 miliar”.

Jangan dulu anda terkejut karena dana naik dari 500 menjadi 600 miliar. Karena cerita belum selesai. Pada kesempatan lain, saya bertemu dengan kerabat sang tokoh senior di Jakarta. Sambil makan di restoran padang – yang rendangnya masih tidak mengalahkan nikmatnya rendang olahan Mamih Hajjah Titien Sumarni, ibu saya.

“Jar Abah (kata ayah) dana pilgub 2015 paslon B habis 600 miliar, bujurkah (betul)?

“Salah Abah (ayah). Yang bujur 800 miliar”.

“Waduh ganal banar (aduh besar sekali)!”

“Yang dihitung Abah adalah dana dari proposal yang masuk ke sidin (Beliau). Saya terus di samping Haji Z. Saya tahu dana-dana yang keluar. Saya hitung-hitung sekitar 800 miliar”.

Cilaka! Dana 500 atau 600 miliar aja sudah sangat besar menurut pengalaman Bung Eep. Ini malah informasinya lebih tinggi lagi, 800 miliar. Mengapa ada yang bersedia mengeluarkan ratusan miliar untuk membiayai kandidat gubernur di Kalsel? Jawabannya sederhana. Dana super jumbo itu dianggap sebagai “investasi politik”. Dengan membiayai sang calon, ketika dia duduk di kursi gubernur, maka seluruh jejaring bisnisnya akan berjalan mulus, termasuk soal izin-izin pertambangan batu bara dan sawit. Keuntungan dari bisnis itu angkanya triliunan. Jadi, logika matematisnya tidak ada kerugian, yang ada adalah potensi profit yang jauh lebih besar.

Namun, pola pikir manipulatif-koruptif semacam itulah yang merusak pemilu kita. Tidak hanya pada tarap lokal, tetapi juga secara nasional. Kandidat akhirnya terjebak dengan utang politik dari pemodal, dan saat menjabat tidak bebas melaksanakan amanat menyejahterakan rakyat. Yang makin sejahtera adalah sang pemberi modal yang meminta deviden politik, berupa kebijakan ekonomi yang menguntungkan kelompok bisnisnya. Akibatnya yang kaya makin jaya, rakyat yang miskin makin nestapa-merana.

Soal dana kampanye ini harusnya diatur lebih tegas, dengan sanksi yang lebih efektif dan menjerakan. Dana kampanye yang cenderung koruptif adalah praktik pidana pemilu politik uang, harus diberi sanksi pembatalan pasangan calon dan dipidanakan. Itu artinya, penegakan hukum pemilu harus berjalan tegak-lurus tidak tergoda oleh kekuatan kekuasaan dan uang. Seluruh penyelenggara pemilu, utamanya jajaran bawaslu dan Tim Gakkumdu harus mengemban amanah dengan hati nurani. Sekali saja mereka tergoda dengan lembaran rupiah – atau bahkan dolar, maka DEMOkrasi akan ditaklukkan oleh DUITokrasi.

Haji Denny & Para Ulama

Pemilu akhirnya hanya menjadi bisnis yang justru membunuh daulat rakyat. Harga diri dan suara rakyat dilecehkan dengan satu-dua lembar rupiah. Seluruh elemen pemilu yang tidak tahan godaan, rentan akan terbeli. Partai politik, rakyat pemilih, penyelenggara pemilu, aparat, tokoh agama, tokoh masyarakat, intelektual, LSM, media, hingga barisan konsultan dan para buzzerRP, semua mungkin masuk dalam satu barisan yang menjadikan ritual pemilu sebagai proyek mengeruk keuntungan rupiah, dan meninggalkan tujuan utamanya untuk menghadirkan wakil rakyat ataupun pemimpin yang seharusnya bukan hanya punya kapasitas-intelektual mumpuni, tetapi juga integritas-moral tidak terbeli.

Kami memang kandidat tanpa kantong tebal. Sempat diisukan didukung oleh Sembilan Naga, fakta di lapangan bahwa alat kampanye kami yang kecil-imut dan terbatas, adalah bukti konkrit bahwa perjuangan kami bukan dengan modal duit, tetapi lebih banyak semangat wirid dan keikhlasan rakyat yang haus akan perubahan, rindu akan keadilan, dan cinta akan kebenaran. Tidak jarang duit memang menang di atas kertas, namun kami yakin perjuangan tidak boleh padam, dan wajib terus dilakukan.

Jadi, kami bukan cagub bermodal ratusan miliar, apalagi dua triliun. Meskipun, belum menang dalam hitungan dunia pemilu di pilgub Kalsel, tetapi insya Allah kita tetap menang dalam hakiki kepemiluan. Karena di pemilu manapun, menang dengan curang politik uang senyatanya adalah kekalahan. (*)

Santorini I/19, 22 Agustus 2021
Haji Denny

3 Responses

  1. Assalamu’alaikum pak Haji… Walaupun anda kalah tapi anda tetap menang dihati kami… Besar harapan kami anda dapat memenagkan pemilu kemarin karena kami sudah lelah dengan pemimipin yg mementingkan kepentingan pribadi dan golongan… Sudah cukup pembelajaran musibah yg sudah kami alami sewaktu banjir besar kemarin akibat ketamakan ulah tangan manusia manusia serakah. Kami hanya bisa berdo’a semoga Allah mengantikan pemimpin yang betul-betul amanah. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Formulir Konsultasi Hukum Online

Hilmy Insana Purnaningtyas, S.H., M.H.

Lulusan Magister Kenegaraan, Fakultas hukum, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 2019. Menekuni profesi bidang administrasi hukum sejak 2007. Memiliki pengalaman bekerja sebagai personal assistant Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M (2015-2022). Sebelumnya berprofesi sebagai tenaga ahli pada Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP-PPP) – Kementerian Sekretariat Negara (2011-2014). Pernah menjabat sebagai Pembantu Asisten, Staf Khusus Presiden Bidang Hukum, HAM, dan Pemberantasan KKN, Sekretariat Kabinet RI (2009-2011) yang sebelumnya Bernama Staf Khusus Presiden Bidang Hukum (2008-2009).

Muhtadin, S.H.

Graduated from the Faculty of Law of Bung Karno University (2017). Was enrolled in the corporate crime in the forestry sector training held by the Corruption Eradication Commission (KPK). He was also enrolled in the Prevention against Corruption training held by the Ministry of Environment and Forestry. Previously worked for a goods and service company at PT Korusindo Development Jointventure. He had also worked as a supervisor at a hotel in Jakarta.

Dra. Wigati Partosedono, S.H., LL.M.

Wigati memulai karirnya di sebuah perusahaan minyak. Dia bertanggung jawab untuk itu menangani pengiriman minyak mentah dan produk LPG, serta persiapan berbagai kontrak. Sebelum itu, dia bekerja untuk perusahaan ekspor dan impor. Sejak 1994, ia telah bekerja di beberapa firma hukum sebagai advokat dan dipercaya untuk menangani masalah perusahaan.

Harimuddin, S.H.

Harimuddin adalah advokat sejak tahun 2000. Mulai tahun 2008 berkarir di pemerintahan sebagai asisten Staf Khusus Presiden Bidang Hukum, HAM dan Pemberantasan KKN, Kepala Divisi Pengaduan Masyarakat di Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, asisten di Satgas/Badan Pengelola REDD+, hingga Asisten Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Saat ini Harimuddin adalah konsultan/tenaga profesional di Satgas Pemberantasan Penangkapan Ikan secara Illegal atau biasa disebut Satgas 115. Sejak mahasiswa, Harimuddin terbiasa mengadvokasi kasus yang melibatkan masyarakat dan korporasi. Bidang dan keahlian hukum yang digeluti adalah kasus yang berkaitan dengan lingkungan hidup, kehutanan, pertambangan, perkebunan, kelautan dan perikanan, dan pengeloaan sumber daya alam lainnya.

Tedy Indrajaya, S.T.

Tedy berpengalaman bekerja di lembaga keuangan perbankan sebagai Account Manager Corporate. Tedy menguasai produk-produk penyaluran pembiayaan dan penghimpunan dana. Saat ini Tedy adalah komisaris pada satu perusahaan swasta dan Direktur Utama pada perusahaan lainnya. Dengan pengalaman kerja demikian, Tedy berpengalaman membantu berbagai persoalan bisnis dan investasi, termasuk soal perizinan dan ketenagakerjaan.

Muhtadin, S.H.

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (2017). Pernah bekerja di perusahaan bidang pengadaan barang dan jasa di PT Korusindo Development Jointventure. Berpengalaman menangani perkara litigasi dan non litigasi terkait korporasi. Ahli di bidang hukum ketenagakerjaan, hukum keluarga, hukum kehutanan dan lingkungan, uji tuntas (legal due diligence), serta mengurus berbagai perizinan yang diperlukan perusahaan. Pernah mengikuti pelatihan tindak pidana korporasi dalam perusahaan sektor kehutanan yang diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Pernah pula mengikuti Pelatihan Pencegahan Tindak Pidana Korupsi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Musyarofah Noor Rohmah, S.H., M.H.

Staf Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (2011-2014). Ia juga pernah membantu kerja Divisi Pengaduan Masyarakat di Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum yang tergabung dalam Tim Asistensi Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (2010-2012). Pembantu Asisten di Staf Khusus Presiden Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Pemberantasan Korupsi (2010-2011). Berpengalaman dalam sejumlah penelitian hukum, khususnya dalam bidang hukum perdata dan hukum lingkungan.

M. Raziv Barokah, S.H., M.H.

Menyelesaikan studi S1 dari Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (2016) dan studi S2 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2020). Senior Lawyer di INTEGRITY dengan spesialisi pada bidang hukum administrasi negara dan hukum konstitusi. Memulai karir sebagai Peneliti Muda di SETARA Institute. Pernah berkecimpung di dunia commercial law sebagai Junior Lawyer di SSAP Law Firm dan corporate legal di PT SCG Readymix Indonesia. Kemudian menjadi Tenaga Ahli Anggota Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan Negara sebelum akhirnya bergabung dengan INTEGRITY Law Firm. Ketika mahasiswa merupakan aktivis dan organisatoris. Pernah menjabat sebagai Wakil Presiden BEM Ilmu Hukum UIN Jakarta dan Ketua Moot Court Community yang sempat membawa Hukum UIN Jakarta merajai kompetisi debat nasional. Ia sendiri berhasil memenangi beberapa kompetisi hukum nasional yakni Juara 2 Business Law Competition di Universitas Indonesia; Juara 1 Debat Hukum Nasional Padjajaran Law Fair di Universitas Padjajaran; Juara 1 Debat Antar Mahasiswa Nasional di Komisi Informasi Pusat RI; Juara 1 Debat Konstitusi Regional di Mahkamah Konstitusi RI; dan Juara 1 Debat Konstitusi Nasional di Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

M. Rizki Ramadhan, S.H.

Mendapat gelar sarjana hukumnya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2018). Aktif di berbagai organisasi mahasiswa internal fakultas dan acap kali terjun pada kompetisi sidang semu nasional. Ia menjuarai Kompetisi Sidang Semu Konstitusi Piala Ketua Mahkamah Konstitusi yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia sekaligus 7 Besar Ahli untuk kategori individu dan 4 Besar Permohonan Judicial Review untuk kategori tim (2017). Sebelum bergabung bersama INTEGRITY, ia mengawali kariernya di beberapa law firm di wilayah Jakarta dan terlibat dalam penanganan beberapa permasalahan korporasi secara umum hingga perkara hukum litigasi korporasi seperti memberi opini hukum dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan perusahaan berupa salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) besar di Indonesia dan perkara gugatan wanprestasi jual beli barang impor.

Zamrony, S.H., M.Kn., CRA., CTL.

ZAMRONY is an expert advocate in the fields of constitutional and corporate laws as well as an authorized curator who deals with bankruptcy and debt suspension matters. He was an active participant in the country’s judicial monitoring community as the Director of Indonesian Court Monitoring. He was an assistant of the President’s special advisor of law, human rights and corruption eradication; an assistant of the Legal Mafia Eradication Task Force and an assistant of the Deputy Minister of Justice and Human Rights; and a member of the Legal Aid Working Group for the Poor at the Ministry of Justice and Human Rights.

Dra. Wigati Partosedono, S.H., LL.M.

Dra. WIGATI PARTOSEDONO, S.H., LL.M. began her career in an oil company. She was responsible for handling the shipment of crude oil and LPG products, as well as the preparation of various contracts. Prior to that, she worked for an export and import company. Since 1994, she has worked in several law firms as an advocate and is entrusted to handle corporate matters.

Harimuddin, S.H.

HARIMUDDIN, S.H. has been an advocate since 2000. He began his career in the government as an assistant of the President’s Special Advisor of law, human rights, and corruption eradication, the Head of the Public Complaints Division at the Legal Mafia Eradication Task Force, assistant of the REDD+ Task Force, and the Assistant Chief of the Presidential Working Unit for the Supervision and Management of Development (UKP4). Currently, he is a consultant in the Task Force of Illegal Fishing Eradication.

Tedy Indrajaya, S.T.

TEDY INDRAJAYA, S.T. is an experienced banker who previously worked as a Corporate Account Manager in a national banking institution. He is the expert of financing and funding products in banking. Currently, Tedy is a commissioner to a private company and the President Director of other companies. With such work experiences, Tedy is responsible in handling various business and investment issues, including licensing and employment issues.

Musyarofah Noor Rohmah, S.H., M.H.

Staff to the Deputy Minister of Law and Human Rights (2011-2014). She also aided the Public Complaints Division at the Legal Mafia Eradication Task Force Assistance Team (2010-2012). Assistant to the Special Staff of Law, Human Rights, and Corruption Eradication to the President (2010-2011). Experienced in legal research, especially in the field of private law and environmental law.

Raihan Azzahra, S.H., MCL.

Adalah salah satu Associate di INTEGRITY Law Firm. Merupakan lulusan dari Universitas Gadjah Mada (2020) dengan gelar Sarjana Hukum dan dari International Islamic University Malaysia (2022) dengan gelar Master of Comparative Laws. Memiliki minat pada riset dan penulisan dengan fokus bidang hukum tata negara, hukum internasional, dan perbandingan hukum. Raihan telah menghadiri beberapa konferensi internasional untuk mempresentasikan hasil risetnya. Sejak bekerja di INTEGRITY, ia telah terlibat dalam menangani berbagai kasus yang sebagian besarnya adalah kasus menurut hukum Australia yakni terkait hukum perdata, bisnis, dan imigrasi.

M. Raziv Barokah

M. Raziv Barokah, S.H., M.H.

Earned his bachelor’s degree from the Faculty of Sharia and Law, Islamic State University (UIN) Jakarta in 2016. Currently undergoing his master’s program at the Faculty of Law University of Indonesia (UI). He is a Junior Lawyer specializing in administrative law and constitutional law. He started his career as a Junior Researcher at SETARA Institute. He has also been involved in the commercial law sector as a Junior Lawyer at SSAP Law Firm and Legal Officer at PT SCG Readymix Indonesia. He then became an Expert Staff at Commission III of the House of Representative of the Republic of Indonesia (DPR RI) prior to joining INTEGRITY. During his time in college, he was the Vice President of Law of the Student Executive Board and the Chairman of the Moot Court Community who helped mold his alma mater into one of the most prominent teams in the national law debate hemisphere. He himself has succeeded in winning a number of prestigious national law competitions such as the runner up in the Business Law Competition organized by University of Indonesia; the winner of Padjadjaran Law Fair National Law Debate; the winner of Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia National Debate; the winner of the Regional and National Constitutional Debates of the Constitutional Court of the Republic of Indonesia.

Abdulatief Zainal, S.H.

Graduated from the Faculty of Sharia and Law, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta with a concentration in business law (2018). He was active in the Moot Court Community organization and has achieved a number of academic milestones including the Semifinals of the Diponegoro Law Fair National Law Debate, 2nd Place in the Airlangga Law Competition National Law Debate, and Winner of the Regional and National Constitutional Debates of the Constitutional Court of the Republic of Indonesia (2015-2016). Aside from earning various kinds of awards and being actively involved in the world of academic competitions, he was designated the best participant in several workshops (“Knowing Legal Due Diligence and Legal Opinion”, Association of Capital Market Legal Consultants; “The School of Capital Market and Securities: Initial Public Offering in Indonesia”), both of which are held by the University of Indonesia.

M. Rizki Ramadhan, S.H.

Earned his law degree in 2018 from Syarif Hidayatullah Islamic State University Jakarta. Active in various internal student organizations and often participated in national moot court competitions. The winner of the Chief Justice Trophy of the Constitutional Court Constitutional Moot Court Competition in 2017, he was also the 7th Best Expert in the individual category and earned the Top 4 Applications Award in the team category. Prior to joining INTEGRITY, he had cultivated a vast legal experience from several law firms in the Greater Jakarta area and he was involved in several corporate agreements and litigations on behalf of several renowned companies, one of which is a state-owned company (BUMN).

Musthakim Alghosyaly, S.H.

Menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana hukum di Universitas Hasanuddin, Makassar pada tahun 2019. Selama kuliah, terlibat aktif dalam gerakan antikorupsi kemahasiswaan serta diberi kesempatan menjadi Ketua Garda Tipikor Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin periode 2016-2017. Bersama Delegasi Unhas, ia meraih juara 1 dalam Kompetisi Legislative Drafting “Rancangan Undang-Undang Perikanan” di Universitas Indonesia (2016) sekaligus menjadi finalis dalam kompetisi serupa di Universitas Brawijaya (2017) dan Universitas Islam Indonesia (2018). Ditugaskan sebagai asisten dalam penelitian bertema State Accountability Revitalization di Provinsi Papua melalui kerjasama BPKP RI-Universitas Hasanuddin (2018). Terlibat sebagai peserta Karya Latihan Bantuan Hukum (KALABAHU) LBH Makassar (2018). Sebelum berkarir di INTEGRITY, ia mengabdi sebagai staf peneliti di Pusat Bantuan Hukum PERADI Makassar pada tahun 2019.

Tareq Elven, S.H.

Tareq menyelesaikan studi Sarjana Hukum di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2019. Sejak bergabung ke INTEGRITY Law Firm tahun 2020, Tareq telah menangani berbagai kasus di Mahkamah Konstitusi, seperti Perselisihan Hasil Pemilihan Kepala Daerah (PHPKADA) Gubernur Kalimantan Selatan Tahun 2020 serta Pengujian Undang-Undang ITE dan Undang-Undang Pemilihan Umum. Selain itu, Tareq juga berpengalaman menangani kasus sengketa pertambangan, pertanahan, kehutanan, dan perusahaan. Saat menjadi mahasiswa, Tareq pernah mengikuti Summer School di Istanbul University-Turki (2016) dan International Islamic University Malaysia (2017), mewakili Indonesia pada ASEAN Youth Forum di Manila-Filipina (2017), dan mendapatkan beasiswa penuh dari TEMASEK Foundation International pada program Learning Express di Singapore Polytechnic (2018). Tareq menerima penghargaan sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama 1 tingkat Provinsi Yogyakarta dari Kopertis V-Kemenristekdikti (2017).

Gusti Ika Purnama Sari, S.H.

Merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Pernah bertugas pada Staf Khusus Presiden di Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Pemberantasan Korupsi. Selain itu juga memiliki pengalaman tergabung dalam Tim Asistensi Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum, dan bekerja sebagai Staf Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tahun 2011 – 2014. Saat ini menjadi bagian Legal Administrator di INTEGRITY Law Firm.

Anjas Rinaldi Siregar, S.H., M.H.

Mendapat gelar sarjana hukumnya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2021). Saat menjadi Mahasiswa, ia aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal kampus. Tahun 2020 dipercaya sebagai Ketua Moot Court Community yang membawa UIN Jakarta mendapat banyak torehan prestasi di bidang debat hukum, karya tulis ilmiah dan peradilan semu. Ia sendiri berhasil menjuarai Kompetisi Peradilan Semu Pidana tingkat Nasional, Kompetisi Mediasi Nasional Piala Ketua Mahkamah Agung dan menjadi delegasi Kompetisi Peradilan Semu Konstitusi yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi, hingga dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi (student achievement award).

Sejak bergabung dengan INTEGRITY ia telah terlibat dalam tim yang menangani perkara Judicial Review Presidential Threshold, gugatan Perbuatan Melawan Hukum oleh Penguasa (OOD), maladministrasi korporasi, sengketa administrasi pertambangan/sawit, persekongkolan perusahaan swasta dalam penyerobotan lahan negara dan penanganan kasus kecurangan CPNS 2019.

Amella Lismarina, S.P.

Amella Lismarina, S.P. Merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada. Pernah bertugas di Divisi Teknik pada proyek KSO PT Hutama Karya – PT Bumi Karsa (2008-2011). Ia juga pernah membantu kerja pada Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum, dan pada Staf Khusus Presiden Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Pemberantasan Korupsi. Selain itu, bekerja sebagai Staf Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (2011-2013).

Sutrisno

Sutrisno adalah mahasiswa hukum semester 7 di Universitas Terbuka Indonesia. Sejak bergabung dengan INTEGRITY pada tahun 2019 sebagai paralegal, ia telah banyak membantu menangani kasus baik litigasi maupun non-litigasi. Beberapa kasus penting yang pernah turut ditanganinya adalah penyelesaian sengketa Pilpres 2019 dan Pilgub Kalsel 2020 di Mahkamah Konstitusi. Sifat rajin dan kerja kerasnya menjadikan Trisno sebagai sosok yang selalu dapat diandalkan dalam menangani berbagai kasus. Trisno akan selalu siap membantu untuk menangani perkara.

Alif Fachrul Rachman, S.H.

Menyelesaikan Studi S-1 dari Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berdasarkan pengalamannya sebagai mahasiswa, tercatat berhasil meraih beberapa juara dalam kompetisi bidang hukum, seperti Juara 2 lomba Debat Hukum pekan hukum UIN Jakarta (2019), Semifinalis Pancasila Debate Competition (2019), Peserta Lomba Debat Hukum Padjajaran Law Fair (2020), Semifinalis Lomba Debat Hukum Diponegoro Law Fair (2020), dan Juara 1 Lomba Debat Hukum tingkat nasional INTEGRITY Scholarship (2021).

Selain aktif mengikuti kejuaraan debat hukum, Alif juga aktif dalam menulis berbagai artikel dan jurnal ilmiah hukum. Setidaknya, terdapat beberapa tulisan dan publikasi yang telah dimuat dalam media nasional. Pada awal Tahun 2022, yang bersangkutan dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti Konferensi Nasional Tata Kelola Pemilu yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI).

Memulai karir sebagai peneliti muda pada Pusat Studi Konstitusi dan Legislasi Nasional (Poskolegnas) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam program KKN mahasiswa. Kini, yang bersangkutan adalah Associate at Indrayana Centre For Government, Constitution, and Society (INTEGRITY) Law Firm. Sejak bergabung bersama INTEGRITY, Alif aktif dalam berbagai penganan kasus hukum (litigasi), seperti gugatan TUN di PTUN, Uji Materiil maupun Formil di MA dan MK, Pra-Peradilan di Pengadilan Negeri, dan pelbagai masalah hukum lainnya yang berkaitan dengan Hukum Administrasi Negara, Hukum Tata Negara, dan Hukum Pidana.

Zamrony, S.H., M.Kn., CRA., CTL.

Zamrony adalah advokat, kurator dan pengurus yang berwenang menangani perkara-perkara kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang. Zamrony juga memiliki sertifikasi brevet pajak dan izin khusus dari pengadilan pajak untuk menangani sengketa-sengketa perpajakan. Berkarier di pemerintahan sejak 2009 sebagai asisten staf khusus presiden bidang hukum, HAM dan pemberantasan KKN, asisten satgas pemberantasan mafia hukum, Staf Ahli di Komisi III DPR RI, hingga asisten Wakil Menteri Hukum dan HAM. Pernah berkecimpung di dunia NGO pengawasan peradilan sebagai Direktur Indonesian Court Monitoring. Zamrony terlibat di berbagai penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan, serta penelitian hukum lintas sektoral. Pernah aktif sebagai anggota Pokja Bantuan Hukum untuk Orang Miskin, Kemenkumham. Pada tahun 2013, dipercaya menjadi dewan redaktur tabloid notaris Indonesia. Tulisannya termuat di beberapa media dan jurnal.