Begitu saya memutuskan untuk maju sebagai bakal calon gubernur Kalimantan Selatan, tantangan terbesar yang muncul adalah bagaimana mendapatkan tiket sebagai kandidat. Untuk maju sebagai calon independen, KTP yang harus dikumpulkan minimal 300 ribu, butuh biaya besar dan waktu yang longgar. Akhirnya, meskipun di awal-awal sempat mengumpulkan KTP dukungan, karena keterbatasan waktu dan anggaran, saya putuskan untuk konsentrasi mengejar rekomendasi pencalonan dari partai politik.
Di sinilah tantangan menuju pelaminan sebagai calon mempelai dari partai politik menemukan godaannya. Sudah jamak dipahami, bahwa untuk menjadi kandidat dari partai politik, ada setorannya. Ibarat akan meminang parpol, ada mas kawinnya alias mahar. Itulah bentuk politik uang, yang secara umum memang ada dua macam. Satu, politik uang berupa mahar kepada parpol untuk direkomendasikan sebagai kandidat (candidacy buying); dan dua, politik uang untuk membeli suara rakyat pemilih (vote buying). Soal pembelian suara pemilih akan kami tulis dan ceritakan di bagian-bagian lain. Kali ini, kita fokus membahas soal mahar kepada parpol saja.
Allah melindungi saya dan memberikan kemudahan. Banyak yang tidak percaya, tetapi saya tidak membayar mahar kepada partai politik. Tangan Tuhan bekerja. Jauh sebelum mencalonkan diri sebagai gubernur, saya sudah mengenal para petinggi parpol negeri ini, sehingga tidak ada mahar yang saya keluarkan. Tetapi bukan berarti perjalanan mendapatkan rekomendasi parpol berjalan mulus, tanpa godaan. Yang pasti dramanya layak dibuat serial sinetron, dan ketegangannya cukup mendebarkan dan menyehatkan jantung perjuangan.
Saya mendaftarkan diri sebagai calon gubernur ke hampir semua parpol, kecuali Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Partai Golkar karena Ketua DPD-nya adalah Sahbirin Noor, petahana gubernur yang mencalonkan diri lagi. PDI Perjuangan, sebagaimana Golkar, tidak membuka pendaftaran calon gubernur, atau kalaupun dibuka sudah sangat terlambat.
Saya membutuhkan minimal 20% atau 11 kursi DPRD Provinsi, yang totalnya berjumlah lima puluh lima. Partai Nasdem awalnya memberikan angin surga, apalagi dengan komitmen seleksi tanpa mahar. Saya bertemu salah satu pimpinan parpolnya, namun entah mengapa ujungnya rekomendasi diberikan kepada pihak lain.
Saya sempat bertemu dengan pimpinan-pimpinan PKS, bahkan berkunjung ke rumahnya. Sang petinggi partai dengan terbuka mengatakan:
“Pak Denny, kita sudah seperti saudara. Saya langsung jujur saja. PKS kesulitan memberikan rekomendasi selain yang didukung oleh …”, disebutlah lagi nama haji itu. “PKS Kalsel sudah sangat banyak dibantu, kami tidak mungkin berbeda dengan rekomendasi provinsi. Tapi nanti kalau mas Denny mendapatkan tiket, kita bisa atur strategi dukungannya di lapangan”.
Saya tersenyum, memahami posisi sulit PKS. Kalimat terakhir Beliau pun saya anggap hanya catatan penghibur, yang tidak pernah kami tindak lanjuti.
“Nggih, saya mengerti. Saya sebenarnya tahu dan sudah menduga rumitnya posisi PKS. Tetapi saya punya kewajiban untuk berikhtiar, apalagi PKS bagi saya bukan orang lain”.
Pertemuan itu tidak lama, hanya sebentar saya pamit. Sedari awal saya sudah mendengar kedekatan hubungan seorang petinggi PKS Kalsel yang ke sana kemari naik pesawat jet Sang Haji. Mendapatkan rekomendasi PKS karenanya, pastilah sulit, tetapi semuanya layak dicoba dan diikhtiarkan.

Dengan PKB, saya serius mengikuti fit and proper test DPP Partai, menyampaikan presentasi visi-misi sebagai calon gubernur. Saya cukup dekat pula dengan Ketum Cak Imin. Pernah sama-sama di kabinet Presiden SBY. Beberapa pesan WA pun saya kirimkan kepada Beliau, tetapi agaknya posisi PKB pun tidak mudah. Beberapa pertemuan dengan DPP pun kami lakukan di berbagai restoran. Akhirnya, rekomendasi diberikan kepada kandidat yang tidak hadir, apalagi presentasi di tes uji kelayakan. Tidak ada kesepakatan soal mahar, sedari awal kepada semua parpol saya tegas menolaknya.
Bagaimana dengan PAN? Pastilah sulit. Apalagi Muhidin selaku Ketua DPD Kalsel juga maju sebagai calon wakil gubernur petaha. Maka kedekatan hubungan saya dengan sang Ketum Zulkifli Hasan menjadi tidak bernilai. Beberapa kali saya mengirim pesan WA, tetapi tidak berbalas. Biasanya Bang Zul paling cepat membalas WA dan mudah ditemui di rumah dinasnya. Sama dengan PKS, posisi PAN tentu juga sulit dan terkunci.
Tersisa tiga partai, Gerindra, Demokrat, dan PPP. Di sinilah tangan Tuhan bekerja, membukakan jalan. Untungnya ketiga petinggi partai semuanya saya kenal baik dan lama. Ketiga partai ini mempunyai kursi DPRD Provinsi Gerindra 8, Demokrat 3, dan PPP 3. Dengan kebutuhan minimal 11 kursi, maka posisi Gerindra menjadi gadis cantik yang harus ada dalam partai pengusung.

Dengan Pak Prabowo, saya terakhir bekerja sama sebagai kuasa hukum Prabowo-Sandi di sidang sengketa hasil Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi. Maka, ketika awal-awal kami bertemu di rumah Kertanegara, dengan diantarkan Abah Haji Abidin, Ketua DPD Gerindra Kalsel, Pak Prabowo berucap,
“Kita pernah dibantu Pak Denny di pilpres, sekarang giliran kita membantu Beliau di pemilihan gubernur Kalimantan Selatan”.
Saat itu pula Beliau berucap, “Tapi maharnya jangan lupa ya, Rp 50 M”.
Ketika melihat muka saya terkejut, saling bertukar pandang dengan Haji Abidin, Pak Prabowo tertawa terbahak-bahak, sambil memukul keras pundak saya. Setelah pertemuan usai, bekas tepukan tangan Prabowo masih terasa nyeri.
“Ha-ha-ha, tidak ada mahar Pak, tenang saja. Dengan saya tidak pakai mahar-maharan. Apalagi dengan Pak Denny”.
Saya kemudian bertemu lagi beberapa kali dengan Pak Prabowo, terakhir kembali dengan Haji Abidin di kantor Menteri Pertahanan. Itulah saat Pak Prabowo memberikan disposisi singkat di berkas pencalonan saya, “Sekjen, mohon segera diproses”, ditandatangani: Prabowo.
Di pertemuan itu pula, Pak Prabowo menegaskan lagi komitmen tanpa mahar,
“Saya tidak akan terima apapun dari pak Denny, apalagi mahar. Kita sudah berjuang bersama, dan kita akan berjuang terus bersama-sama sampai akhir memenangkan Indonesia Raya. Kita akan terus seiring-sejalan, tanpa transaksi, tanpa mahar”, tegas sang jenderal.
Video Haji Denny sujud syukur setelah menerima Rekomendasi Gerindra.
Video Haji Denny menerima rekomendasi Cagub kalsel dari Sekjen Gerindra.
Alhamdulillah, tidak berselang lama, hanya berjarak beberapa jam, rekomendasi Partai Gerindra kami ambil di kediaman Sekjen Akhmad Muzani. Terharu karena perjalanan panjang dan berliku, saya sempat sujud syukur di ruang kerja sang Sekjen.
Dengan 8 kursi dari Gerindra, saya hanya membutuhkan tiga kursi lagi dari salah satu Demokrat atau PPP. Tetapi Allah sudah mengatur semuanya. Sama dengan cerita Pak Prabowo, kebersamaan saya dengan petinggi Demokrat dan PPP bahkan lebih panjang. Tentu pembaca sudah mafhum, saya sempat bekerja enam tahun dalam pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tiga tahun sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Hukum, HAM, dan Pemberantasan KKN (2008—2011), dan tiga tahun sebagai Wakil Menteri Hukum dan HAM (2011—2014). Maka ketika membutuhkan rekomendasi Demokrat, jalinan batin kami sudah terikat erat sejak lama. Namun, bukan berarti tidak ada drama pula ketika memproses rekomendasi partai mercy tersebut. Pada tulisan selanjutnya, drama dengan Partai Demokrat akan saya ceritakan lebih lengkap dan utuh.
Dengan PPP, saya mendapatkan sokongan dari Ketum Suharso Monoarfa dan utamanya Sekjen PPP kala itu, Bapak Arsul Sani. Kebetulan mertua saya, KH Macmud Masjkur, pernah menjadi Ketua PPP Pekalongan. Di zaman Orde Baru, ketika Golkar amat sulit ditaklukkan, PPP tetap menang di Kota Pekalongan. Maka, sejarah itu menjadi bahan Pak Arsul untuk meyakinkan Ketua Suharso, yang juga pernah bersama-sama saya menjadi anggota kabinet Pak SBY.
“Pak Denny itu punya darah PPP dari mertuanya,” begitu rayuan maut Pak Arsul, yang juga asli Pekalongan, kepada para kolega PPP-nya.
Tanpa mahar, tanpa rupiah sepeserpun, dan sempat diselingi beberapa kali kesalahan ketik nama – guyon seorang sahabat karena saya tidak memberikan upah ketik, akhirnya surat rekomendasi DPP PPP kami kantongi.
Lagi-lagi Tuhan telah bekerja. Resepnya adalah, saya sudah lama kenal dengan Pak Arsul Sani. Saya pernah bekerja sebagai lawyer di firma hukum Beliau pada tahun 1997—1999. Hampir tiga tahun itu sudah lebih dari cukup untuk membangun kesamaan juang dan chemistry antara kami berdua, yang sama-sama merindukan Indonesia, dan utamanya penegakan hukum yang lebih baik, antimafia.

“Mumpung Abang Sekjen, tolonglah bantu rekomendasi PPP, dan tentunya tanpa mahar, karena itu prinsip perjuangan kita, dan saya juga tidak ada dananya,” ujar saya di ruang kerja Wakil Ketua MPR Arsul Sani.
“Insya Allah Den, yang penting DPW PPP Kalsel juga setuju. Tidak ada bayar-bayaran. Selama saya masih punya kewenangan, kita tegakkan prinsip politik bersih,” tegas Pak Arsul.
Maka kami diskusikan cara meyakinkan Ketum DPP PPP dan Ketua DPD PPP Kalimantan Selatan. Tidak ada hambatan berarti, kecuali drama salah ketik nama, surat rekomendasi PPP pun mulus kami dapatkan.
Akhirnya, dari kebutuhan hanya 11 kursi, kami mendapatkan dukungan 14 kursi parpol, Gerindra, Demokrat dan PPP. Sebenarnya ada kursi dari partai lain yang juga ingin bergabung, tetapi DPP-nya minta setoran 1 miliar. Sang pimpinan provinsinya sudah mengejar ke Jakarta supaya tanpa mahar, tetapi tidak berhasil. Di rumah sang ketua provinsi kami bertemu,
“Maaf Pak Denny, saya sudah mencoba meyakinkan, tetapi masih diminta 1 M”, senyum kecut sang ketua, dengan wajah sepuh yang bijak.
“Terima kasih bapak sudah berusaha. Tanpa rekomendasi DPP, mohon Bapak tetap berkenan bergabung sebagai partai pendukung. Saya tidak bisa memberikan mahar. Apalagi syarat kursi saya sudah cukup, bahkan lebih. Malah barusan Pak Prabowo, akan membantu dana 5 M”.
Itulah kemurahan tangan Tuhan. Tepat sebelum pertemuan di rumah sang ketua parpol tersebut, saya mendapatkan pesan audio WA, bahwa Prabowo memutuskan membantu dana operasional sebesar 5 miliar rupiah, sehingga saya punya alasan lebih kuat untuk menegaskan komitmen antimahar tersebut. Jangankan membayar setoran, malah saya akan dibantu dana miliaran. Pesan suara WA itu datang dari petinggi Gerindra berbunyi,
“Mas, nanti akan transfer dana dari Pak Prabowo, 5M. Silakan digunakan untuk operasional. Sesuai janji, Beliau akan bantu maksimal. Kita insya Allah menang mas. Silakan koordinasi dengan Ketua DPD Haji Abidin untuk realisasinya”.
Walaupun, karena satu dan lain hal, rencana bantuan dana itu memang akhirnya tidak terealisasi. Tetapi sebagaimana ajaran agama Islam, niat baik, meskipun tidak terwujud, sudah mendapatkan hitungan balasan pahala.
Itulah sekelumit kisah dan drama saya dalam berburu rekomendasi parpol di pemilihan Gubernur Kalsel. Tekad tanpa mahar politik itu bukan saja sesuatu yang mungkin, tetapi justru memang harus bisa dilakukan. Meskipun, dalam contoh cerita sukses yang saya alami, Allah SWT sudah mengaturkan jalannya dan memberikan kemudahannya. Wallahu a’lam bishawab. (*)
Santorini I/19, 15 Agustus 2021
Haji Denny
21 Responses
Semoga politik tanpa mahar seperti ini bisa menjadi pegangan semua ketum parpol sebagaimana sikap negarawan pak jendraL Prabowo sehingga bisa melahirkan pemimpin yg insyaallah amanah dan dapat merasakan keluh kesah rakyat..Aamiin
Perjuangan yg wajib diteruskan. Sy eks ASN/PNS Pemprov. Kalsel bnyk hal yg sy ketahui. Terima kasih. Salam.
Lucu dan geli saya membaca cerita ini.. tp beginilah adanya..
.
Politik mahar udah biasa d parpol.. semoga budaya busuk ini cepat berhenti dari sekarang..
.
kalo saya boleh nebak itu partai yang minta duit 1 M adalah partai biru tua yang satunya.. hehehe
Mantap Prof terus berjuang untuk politik yang bersih dan berintegritas. Saya menunggu tulisan2 dari Prof terkait money politic di pemilu Indonesia, terlebih saya ingin menyusun Tesis berkaitan dengan hal tersebut, yang mengarah ke implikasi money politic terhadap legitimasi MK dan Kepemimpinan di Indonesia. Maka dari itu saya antusias dan serius mempelajari berbagai statemen dan ilmu dari Prof terkait hal tersebut, baik yg tersirat maupun tersurat.
Semoga Prof selalu dalam lindungan Allah SWT
Ini baru pemimpin yang baik,dan terus berjuang untuk kal- sel Prof H Denny kami terus mendukung perjuangan Prof untuk maju lagi calon gubernur di2024.
Ini baru pemimpin yang baik,dan terus berjuang untuk kal- sel Prof H Denny kami terus mendukung perjuangan Prof untuk maju lagi sebagai calon gubernur di2024. Mudah2han Prof H Denny panjang umur dan sehat selalu supaya bisa maju lagi sebagai calon gubernur yang jujur dan bersih dari politik uang.
Pak Denny, terima kasih atas sharingnya. Alhamdulillah, senang dengar kisahnya dan jadi percaya tanpa membayar atau tanpa mahar di dunia perpolitikan itu ternyata ada. Insya Allah, dengan banyak tokoh Nasional seperti Bapak, Indonesia Bersih akan segera terwujud.
Hormat kami,
Yusuf Arif Setiawan
https://linktr.ee/lemongrassofc
The next gubernur
Assalamu’alaikum,…
Ulun urang banjar. Dan sangat bersyukur dan bangga karena KalSel pernah “hampir” punya gubernur seperti pian. Meski pun cuma sebatas calon, tapi cukup mewarnai suasana pilkada dalam sejarah Banua.
Melalui tulisan pian ini, akhirnya kita tau, belang setiap partai, itikad setiap partai dan sosok-sosok di dalamnya. Ternyata memang pahit rasanya jika berada dalam partai yang sudah tersandera jasa pihak sponsor.
Ulun yakin, pada akhirnya, rakyat sebagai pemilik suara akan sadar dengan sendirinya atas keputusan coblosan mereka. Kerana tak ada kebaikan dalam money politic kecuali kegirangan yg hanya sesaat ketika menerima bayaran itu saja.
Pak Denny, tetaplah berjuang untuk Banua. Tidak harus menjadi gubernur, masih banyak cara untuk melawan kezholiman.
Banyak hal yang saya dapatkan selama menjadi relawan H2D.
Khususnya tentang pilkada/ politik.
Sebelumnya saya kurang memahami tentang hal diatas.
Setelah kehadiran H2D sebagai kandidat.Saya banyak belajar,baik secara langsung atau pun tidak langsung (Pemahaman)
Alhamdulillah, walau ulun sedang bekerja ulun sempatkan membaca ketikan Pian, padahal hanya beberapa tahun aja ulun kenal dunia politik, sempat terpikir politik itu kejam. Setelah ulun mendengar pencalonan Pian Alhamdulillah ulun kawa hijrah, artinya masih ada orang yg lebih baik di atas orang baik, perjuangan Pian tanpa rupiah itu ulun salut. Semoga kedepannya kita bisa belajar dari kesalahan kemarin. Salam hormat pak h Deny
“Jangan berkecil hati tetaplah berjuang karena perjuangan bukan hanya dlm lingkaran pemerintahan”, borong partai itu sdh mainan politik kotor, dan biasanya hasil kepemimpinannya nanti gk diberkahi tuhan, saya acung dua jempol dgn perjuang bang Deni setelah membaca testimoninya, tetap semangat bang ?
Nama baik Prof, kehormatan yg Prof bangun dan Integritas Prof yg terjaga dalam hubungan relasi Prof adalah Rekam Jejak yg Mahal Harga nya melebihi Mahar itu sendiri. Prof adalah salah satu tokoh nadional. Semoga Prof panjang umur, tetap sehat, dan istiqomah dalam perjuangan. Aamiin Allahumma Aamiin
Nama baik Prof, kehormatan yg Prof bangun dan Integritas Prof yg terjaga dalam hubungan relasi Prof adalah Rekam Jejak yg Mahal Harga nya melebihi Mahar itu sendiri. Prof adalah salah satu tokoh nadional. Semoga Prof panjang umur, tetap sehat, dan istiqomah dalam perjuangan. Aamiin Allahumma Aamiin
Terlihat jelas pak dilapangan waktu pilgub. Utuk didaerah sendiri lebih banyak relawan yang bergerak dari pada orang² partai pendukung haji deni. Mungkin karena tanpa uang ke partai jd mesin partai tidak bekerja. Spanduk² haji deny hampir rata² bikinan para relawan. Semangat pak perjuangan belum berakhir mari bersama² bangun banua
Ini baru keadilan ini yang indonesia butuhkan ini yang harus kita perjuangkan bukan yang sekarang apa2 perlu uang
Uln org Banjar,ibu rmh tangga yg tdk mengerti politik.stlh mendgr penjlsn prof Deny br lah kt yakin.parpol itu sperti apa ,lun sgt mengerti dgn perjuangan prof yg panjang.trus kan perjuangan anti politik uang di kal sel,karna itu akan menjd pelajaran bagi rakyat kal sel.dan lun yakin, suatu saat mereka bs menyadari,arti dr sebuah kepemimpinan yg bersih,semoga di 2024 nanti prof kembali hadir mewakili Rakyat yg butuh perobahan.?Banua membutuhkan sosok seperti prof utk menjd pemimpin .maju trus ,karna perjuangan ini belum berahir.
Banyak pelajaran dan pengetahuan yang didapat ketika melewati pilgub kalsel tahun 2020. Ditambah lagi tulisan dari pak Prof. Semoga Istiqomah dalam kebaikan. Aamiin. Terimakasih banyak
Teruslah berjuang pak, kami selalu berdoa semoga suatu saat nanti banua kita memiliki pemimpin yg jujur, yg takut melakukan hal2 yg dilarang agama.
Kebenaran mungkin saja kalah dimata hukum saat ini. Namun kebenaran tidak mungkin salah.
Semoga Prof sekeluarga tetap diberkahi sehat wal afiat…
Salam…
Masya Allah, luar biasa perjuangan pian utk menjadi calon gubernur, walau belum berhasil namun ulun yakin bahwa ini menjadi pembelajaran buat banyak orang, apalgi buat yg menjadi pemula dlm berpolitik, bahwa politik itu banyak membawa kebuntungan tidak melulu keberuntungan. Semoga perjuangan pak Prof dan tim bernilai ibadah dan mendapat ganjaran pahala dihadapan Allah SWT yg Maha Berkehendak.
Sebagai urang banjar asli, walau sudah menetap dinegeri urang namun tetap mengikuti perkembangan daerah yg ulun cintai dan banggakan, termasuk mencintai dan membanggakan perjuangan pian bersama tim pendukung dan partai pengusung.
Semoga pada saatnya pian ditakdirkan Allah menjadi pemimpin dinegeri yg kita harapkan menjadi lebih baik dan membanggakan warganya Kal-sel, biarlah nanti Allah yg mentakdirkan dengan cara dan kehendak-Nya. Aamiin YRA.