Pamikiran Haji Denny

56 Hari Hijrah Gasan Banua

Kuncinya: AMANAH

Amanah adalah kata kunci untuk kita menyelamatkan Banua Kalimantan Selatan. Amanah khususnya wajib dimiliki dan diterapkan oleh siapapun yang mendapatkan mandat untuk memimpin Banua. Kepemimpinan tanpa dilandasi prinsip amanah akan melahirkan tindakan penyimpangan, penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), dan yang paling merusak korupsi. Pemimpin yang memegang teguh prinsip amanah tidak akan korupsi, dan sebaliknya.

Tanpa prinsip amanah, tidak akan terbuka pintu kesejahteraan, dan kemakmuran. Itulah jawaban kenapa kekayaan alam Kalsel yang berlimpah, tidak menghasilkan kesejahteraan. Karena tata kelola kekayaan alam itu tidak dilandasi prinsip amanahnya. Akibatnya, amanat Pasal 33 UUD 1945 tidak terpenuhi, yaitu agar bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Hutan di Kalsel sudah hampir tiada, sebagaimana batubara juga nyaris sirna. Sedangkan rakyat yang miskin papa, masih ada dimana-mana. Letak masalahnya adalah hilangnya kata “amanah” dalam sendi kehidupan bernegara, khususnya di bidang pemerintahan.

Tanpa prinsip amanah, lisensi izin tambang ataupun lahan perkebunan dikeluarkan tanpa mempertimbangkan keselamatan lingkungan, tetapi “wani piro” jumlah setoran. Tanpa prinsip amanah, seleksi dan rotasi pejabat dan pegawai pemerintahan bukan karena prestasi, tetapi berdasarkan kemampuan mengisi pundi-pundi sang penentu posisi. Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang, berapa harga jabatan kepala dinas di provinsi yang amanah adalah makhluk yang sudah punah tiada. Menurut kabar angin sepoi-sepoi, setorannya minimal ada di angka miliaran rupiah. Tanpa amanah, proyek-proyek pengadaan tidak akan menghasilkan kontraktor terbaik, tetapi yang paling banyak menyetor komisi.

Maka amanah adalah kunci, amanah adalah solusi. Mau kehidupan yang lebih makmur, pilihlah pemimpin yang lebih amanah. Mau mendapatkan solusi atas bencana banjir yang masih melanda Banua, pilihlah pemimpin yang lebih amanah. Jangan memilih calon pemimpin semata-mata karena lebih kaya, apalagi sombong dengan kekayaannya tersebut.

Pemimpin yang amanah akan menjaga integritas, dan tidak memikirkan “isi tas”. Pemimpin yang amanah akan menjaga moralitas, termasuk mengharamkan korupsi. Pemimpin yang amanah biasanya akan menjunjung tinggi adab perilaku, sehingga tidak akan berjoget sembarangan di waktu adzan berkumandang, ataupun dalam acara keagamaan di hadapan para Guru, Habaib dan alim ulama. Apalagi di Banua, cinta pada ulama, cinta pada habaib adalah salah satu ciri pemimpin yang berakhlak mulia.

Tanpa amanah kandidat pemimpin akan menghalalkan segala cara. Suara rakyat akan dihargai dengan lembaran uang semata. Suara rakyat direndahkan menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan. Kecurangan dijadikan strategi untuk menang, politik uang dijadikan cara berjuang meraih kemenangan. Tanpa amanah, yang hadir adalah pemimpin tanpa visi antikorupsi, tapi pemimpin yang menghamba pada materi.

Karena itu kita tidak punya pilihan lain kecuali menghadirkan amanah dalam setiap langkah dan tarikan nafas kehidupan kita bermasyarakat. Itu artinya bukan hanya pemimpin yang harus  amanah, tetapi juga rakyat yang dipimpin mesti pula menjadikan amanah sebagai bagian dari ritual kehidupan. Kebiasaan memilih pemimpin karena mendapatkan uang serangan fajar harus diakhiri. Apapun alasannya, bagaimanapun modusnya, praktik jual beli suara adalah praktik haram yang paling merusak pemilu kita, dan karenanya menghancurkan demokrasi.

Ingat, duitokrasi membunuh demokrasi. Daulat rakyat hanya bisa kita rebut dengan mengalahkan daulat uang.

Ke depan, amanah harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pengambilan keputusan sang pemimpin. Amanah pula yang harus menjadi penentu bagi pemilih untuk menentukan coblosan hatinya.

Meskipun, tentu saja untuk menjadi pemimpin yang sempurna, amanah saja tidaklah cukup. Kalau kita bercermin kepada Baginda Rasulullah, maka ada tiga karakter kepemimpinan yang Beliau miliki di samping amanah, yaitu: tabligh, sidiq dan fathonah. Tetapi untuk “pamikiran” kali ini, biarkanlah kita ulas dan fokus saja untuk membahas menegakkan prinsip amanah. Lagipula, tidak akan ada pula pemimpin yang bisa mendekati derajat kualitas kepemimpinan Baginda Rasulullah SAW.

Sebagai penutup, dengan memilih pemimpin yang amanah, insya allah kita juga akan mendapatkan pemimpin yang adil. Pemimpin yang dalam memutuskan berbagai persoalan masyarakat, termasuk menyangkut isu-isu hukum, dengan timbangan hati keadilan. Tentang memilih pemimpin yang amanah dan keadilan, Al-Qur’an surah an-Nisa’: 58, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil”. Wallahu’alam bisshowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *