Tulisan ini sengaja diberi judul, “Tidak Ada Penyesalan”, No Regrets.
Kehidupan saya dipenuhi dengan keberkahan dan pembelajaran. Saya berkesempatan bertemu dengan banyak Guru (dengan huruf “G” besar), yang memberikan banyak materi dan mutiara kehidupan. Belajar memang tidak melulu harus di bangku sekolah. Tidak jarang kita mendapatkan pelajaran melalui interaksi dengan orang-orang hebat, yang memberikan ilmunya, melalui sikap-tindak, melalui tutur-kata, melalui suri-tauladan.
Salah satu Guru itu adalah Wimar Witoelar. Tokoh nasional yang belum tiga bulan lalu wafat meninggalkan kita pada 19 Mei 2021. Bung Wimar, sebagaimana pasti dirasakan banyak kalangan, adalah Guru bangsa tentang bagaimana kegigihan, kekritisan sekaligus kejenakaan, dan kecintaan akan Indonesia, adalah perjuangan yang tak kenal padam. Berawal sebagai aktivis mahasiswa, hingga pernah ditahan tanpa diadili pada tahun 1977, karena sikap kritisnya, Wimar menjadi pendobrak kebuntuan komunikasi politik yang seringkali dikekang pada era Orde Baru.
Pada 1995, di penghujung hidup Orba, “Perspektif” acara talkshow di SCTV yang dibawakannya, akhirnya dibreidel karena divonis mendiskreditkan pemerintah. Seorang Wimar pasti tidak patah semangat, bahkan kreatif menginisiasi acara “Perspektif Baru”, dimana saya beberapa kali diundang menjadi nara sumbernya. Meskipun tetap bersikap santai serta murah senyum, dengan rambut khas kribonya yang terus meninggalkan kesan asyik, logika pikir dan pilihan diksi Wimar mengalir cerdas memformulasikan pertanyaan. Persoalan rumit akan terasa ringan, karena dikemas dengan balutan kejenakaan wajah dan intonasi suaranya, menyisakan kita yang ditantang untuk menjawab pertanyaan, juga dengan jawaban yang cerdas dan mencerahkan.
Buku “No Regrets” adalah salah satu karya Wimar yang menceritakan perjalanannya menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid. Banyak kalangan terkejut ketika Gus Dur mengangkat Wimar selaku spokesperson. Tidak sedikit yang meramalkan sang jubir bakal gagal. Namun, sejarah mencatat, meskipun masa jabatan Gus Dur relatif singkat, Wimar adalah salah satu juru bicara terhandal. Terutama untuk mengimbangi gaya komunikasi Gus Dur yang tentu saja unik dan memiliki banyak kelokan improvisasi. Kuncinya adalah kemampuan Wimar untuk tetap rileks sekaligus terus kritis. Kejenakaan Wimar dan Gus Dur kelihatannya adalah kesamaan yang mengikat erat keduanya. Di samping postur tubuh mereka yang juga mirip, dan yang paling penting, kejeniusan logika pikirnya.
Sepuluh bulan bekerja di Istana itulah yang dibukukan Wimar Witoelar menjadi No Regrets. Alih-alih menyesal, Wimar mengatakan, “Menjadi juru bicara Gus Dur adalah anugerah besar bagi saya”. Melakukan kilas balik ke belakang, setelah mempunyai jarak dengan situasi politik saat itu, saya sepakat bahwa Indonesia amat beruntung mempunyai Presiden Gus Dur dan Jubir Wimar Witoelar. Keduanya orang hebat. Keduanya adalah Guru Bangsa dalam peran dan kapasitasnya masing-masing.
No Regrets, tak ada penyesalan, adalah kalimat yang terbersit lagi di pikiran saya ketika merenungkan perjalanan pemilihan gubernur Kalimantan Selatan 2020, yang berlanjut dengan pemungutan suara ulang 2021. Terlalu banyak pelajaran hidup berharga yang saya dapat dalam berproses sekitar dua tahun maju sebagai calon gubernur tersebut. Semuanya menjadi mozaik yang terangkai sebagai potret pengalaman berpolitik yang sangat menarik, layak untuk diceritakan, dan dibukukan.
Sama sekali tidak ada penyesalan. Meskipun secara hasil formal, saya dan Haji Difriadi bukan dinyatakan sebagai pemenang, tetapi proses yang kami jalani mudah-mudahan meninggalkan kesan dan pesan yang penting, sekaligus pelajaran berharga. Yaitu, bagaimana kita perlu berpolitik, berkompetisi pemilu dengan cara-cara yang terhormat dan bermartabat. Jauh dari pola transaksi dan jual-beli suara, yang sayangnya masih dominan dalam kehidupan kekinian politik tanah air.
No Regrets, tidak ada penyesalan. Yang ada justru rasa syukur karena kesempatan untuk terjun langsung maju menjadi kandidat pemilihan kepala daerah di tanah kelahiran saya. Banyak yang tidak tahu, bahwa saya lahir di Kotabaru, Pulau Laut. Daerah dengan kekayaan alam luar biasa, awalnya kayu, dan setelah habis, sekarang berganti dengan batu bara dan kelapa sawit. Meskipun daerah kaya-raya, berkunjunglah ke Pulau Laut, Kalimantan Selatan, maka dengan mudah didapatkan potret kemiskinan dan kenestapaan dari rakyat jelata, yang menjadi langganan bencana kebakaran, karena perkampungan kumuh dan padatnya.
Terlahir dari ayah Acep Hidayat (almarhum) dan ibu Titien Sumarni, saya bukan hanya berdarah Banjar dari ibu, tetapi juga Sunda dari ayah. Bahkan, dari garis nenek Siti Khodijah, ibunda ayah, saya punya darah Tionghoa. Karena itu, ketika ditanya asal-usul, selain menyebut asli Banjar, saya juga dengan lantang dan bangga menyebut Indonesia. Karena keberagaman suku dan etnis ada dalam aliran darah saya.
Pelajaran kebhinekaan itu pula yang diajarkan dengan amat baik oleh Presiden Gus Dur, Sang Bapak Pluralisme, dan diformulasikan dengan cerdas oleh Bung Wimar, “Sejak Sumpah Pemuda sampai Proklamasi selalu ditekankan bahwa warga negara Indonesia adalah semua golongan, semua agama, semua etnis. Tidak ada keinginan menonjolkan satu golongan atau mengecilkan golongan lain, dan ini sudah difahami oleh semua orang”.
Namun, dalam kompetisi pemilu, tidak jarang politik identitas ditonjolkan untuk mempengaruhi dan mengaduk-aduk emosi pemilih. Secara sadar, saya memilih tidak menyoal asal-muasal kompetitor kami, dari mana Syahbirin Noor, Muhidin, atau kerabat mereka, yang tidak juga semua berdarah suku asli Banjar. Saya memilih tidak memperdulikan negative campain yang cenderung mempermalukan soal asal-muasal keluarga kami. Saya mengganggap itu adalah strategi kampanye yang merusak ke-Indonesia-an kita, menghancurkan Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia tidak bisa besar kalau masih terkotak-kotak dalam diskriminasi etnis dan kesukuan. Indonesia justru adalah bangsa besar karena keberagamannya.
Kompetisi pemilu yang cerdas dan bermanfaat bukan dengan menonjolkan soal politik identitas atau etnisitas, tetapi mengedepankan kapasitas, kemampuan, dan program kerja yang adil guna menyejahterakan pemilihnya. Politik identitas atau etnisitas seringkali menipu. Pencitraan sesaat yang ditonjolkan oleh kandidat karena tidak punya program unggulan, atau tidak punya kapasitas yang layak dijual di hadapan pemilihnya. Ironisnya, tidak jarang dagangan politik identitas itu laku keras di hadapan pemilih yang terhipnotis oleh kamuflase kesamaan suku, padahal menyembunyikan buruknya kapasitas bahkan integritas.
No Regrets, kita tidak ada penyesalan, ketika akhirnya menyaksikan Pilgub Kalsel tetap berujung dengan kemenangan yang masih kental dengan politik uang. Karena perjuangan menuju kebenaran tidak pernah mengenal bahasa kalah. Meskipun Presiden Gus Dur hanya menjabat kurang dari dua tahun, namun kegigihannya dalam memperjuangkan keberagaman, antidiskriminasi dan Indonesia yang saling menghormati, akan kekal dan dikenang tanpa mengenal batas waktu. Itu sebabnya, Wimar Witoelar tetap berdiri dengan gagah, dengan kepala tegak. Karena yang Presiden Gus Dur dan Wimar perjuangkan adalah nilai-nilai kebenaran, bukan kekuasaan apalagi kekayaan.
Kita pun mengakhiri proses Pilgub Kalsel dengan kepala tegak dan kebanggaan, karena yang kita perjuangkan bukan semata-mata posisi gubernur, tetapi yang lebih penting adalah proses kompetisi yang beradab dan berkeadilan. Bagi kita kompetisi bukan hanya harus menang, tetapi menang dengan cara yang terhormat dan bermartabat, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas, yang dalam bahasa konstitusi ditulis sebagai prinsip pemilu yang jujur dan adil (honest and fair election). Tidak ada gunanya menang tetapi dengan cara yang curang, karena yang kita raih bukanlah kebanggaan, tetapi malu dan kehinaan.
No Regrets, tidak ada penyesalan. Karena perjuangan memenangkan kebenaran tidak akan pernah berjangka pendek, apalagi sesaat, melainkan perjuangan panjang dan seringkali melelahkan. Bukan hanya mewajibkan pengorbanan tenaga dan air mata, tetapi tidak jarang tertumpahnya darah guna mencapai kemerdekaan dari penjajahan kedzaliman dan kemunkaran. Presiden Gus Dur dan Wimar, keduanya mengajarkan semangat yang tidak boleh kandas diterjang kekalahan politik sesaat. Meskipun dimakzulkan dalam kaca mata politik kepresidenan, meskipun Gus Dur dibatasi penglihatannya, meskipun Wimar dibatasi daya geraknya dengan kursi roda, semangat perjuangan mereka tidak pernah berhenti. Ikhtiar dan pertarungan mereka bagi Indonesia yang adil dan bhinneka terus tegar dan kokoh sampai akhir hayat di kandung badan.
Maka, perjuangan kita bagi Kalimantan Selatan dan Indonesia yang pemilunya lebih free and fair, lebih demokratis, tanpa politik uang, tanpa politik curang, tidak boleh berhenti hanya karena pengawas pemilu tidak profesional apalagi koruptif, ataupun putusan Mahkamah Konstitusi yang belum mencerminkan rasa keadilan. Karena, perjuangan meraih keadilan pasti bukan ikhtiar jangka pendek. Bukan lomba lari sprint. Pertarungan menegakkan keadilan, membutuhkan stamina lari marathon, nafas panjang, dan konsistensi.
Akhirnya, No Regrets, tidak ada penyesalan, karena di atas segalanya, kita mendasari setiap gerak dan keputusan berdasarkan niat ibadah, dan karenanya berserah hasilnya kepada Yang Maha Segalanya. Yang bisa kita lakukan adalah berjuang dengan ikhtiar dan kerja keras terbaik, sedangkan takdir hasil ujungnya bukan lagi kewenangan kita yang menentukan. Karena apapun hasilnya, itu adalah hak prerogatif Allah SWT. Kepadanya kita berserah, dan kepadanya Gus Dur dan Wimar telah kembali, dengan senyum ikhlas bahagia, tanpa penyesalan.
Saya pun ingin kembali kepada-Nya, pada saatnya, dengan mengenang perjuangan pemilihan gubernur Kalimantan Selatan 2020—2021, tanpa penyesalan, No Regrets. (*)
14 Responses
No Regrets. Saya pun tak ada penyesalan berada di barisan Bapak berdua sampai akhir. Meski kita tak tampil sebagai pemenang dalam hitungan kertas dan komputer, tapi bagi kami, bapak berdua lah pemenangnya. Begitu banyak pelajaran yang bisa kami simpulkan dalam cara bapak mengambil peran dalam perhelatan demokrasi kemarin. Terima kasih untuk Pak Denny dan Difri, serta teman-teman satu squad. Perjuangan kita belum selesai. Perjalanan menciptakan proses demokrasi yang bersih, masih panjang.
Inspiratif
Teruskan perjuangan Prof.untuk Kalsel yang lebih baik dan maju
Jadilah pemain yang sebenarx??
Tetap semangat, 2024 kalsel bisa
Salut atas keteguhan niat pa Deny dalam berjuang melawan politik curang. Aku bangga telah memilih pa Deny sbg gubernur. Aku tidak menyesal meskipun pilihanku belum dikabulkan Allah. Setidaknya aku sdh berusaha mendukung orang2 yg bejuang melawan kecurangan. Aku selalu berdoa, semoga banua kita ini, suatu saat ini dihadirkan oleh Allah seorang pemimpin yg benar2 menjalankan amanah sebagaimana yg telah dicontohkan oleh Baginda Rasullollah. Aamiin.
Saya orang Kalsel yang kini berada jauh diperantauan, saya tidak mengenal secara dekat Pak Haji Denny, tapi saya tahu perjuangan Pak Denny di Pilgub Kalsel 2020 kemarin untuk menegakkan Pilgub Kalsel yang bersih dan bermartabat, sesungguhnya Pak Haji Denny dan Pak Difriady lah pemenangnya. Teruslah berjuang dan berkiprah untuk Kalsel
Pian betugas dan domisili di mana?
Saya swasta aja Pak H Denny, mencari sesuap nasi dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak pernah lama menetap di satu daerah. Teruslah berkarya Pak H.Denny, Selamat Memperingati Kemerdekaan RI Ke 76, mari terus kita kibarkan semangat Proklamasi Kemerdekaan RI untuk Kalsel lebih baik kedepannya. MERDEKA
Hanya di Pilgub 2020 ini kita benar-benar menyaksikan pertarungan “hitam dan putih”.
Mudah-mudahan nantinya yang bertarung hanya yang ” Putih-Putih’ di Pemilu serentak Tahun 2024.
Jaya lah Negeri ku….
Cerdas lah Bangsaku…
no Regrets…no hypocrite…frof.deny…
Tetaplah mengispirasi prof,
Saya swasta Pak H Denny, mencari sesuap nasi dari satu daerah ke daerah lainnya, tidak pernah menetap disatu tempat. Selamat memperingati HUT RI KE 76, dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan RI terus kita gelorakan untuk Kalsel Lebih Baik, MERDEKA
Tetap semangat Bung Denny, kebenaran harus tetap ditegakkan dengan jujur, ikhlas dan sabar tanpa batas.